RSS

Just Note

cerita ini tidak berdedikasi..

bukankah malam terlalu cepat menorehkan kantuk yang menganga

Atau cermin-cermin pecah saat lonceng berbunyi duabelas hitungan

Ini sudah kali keberapa angin memuncakkan perih pada kepala laun-laun

Tanpa malu lagi hujan menyelinap ke sudut mata

Perlahan berbentuk bulatan kecil yang sepersekon kemudian sirna

apakah hidup sesederhana ini?

Menangis tertawa menangis tertawa

Sungguh adakah yang mau menjelaskan lagi?

23 Desember 2009

22.25 p.m

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Nice Birthday :)

Nice Birthday.. Nice Surprise..


I'm thankful for that moment to you all ^^

Love it so :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

(Tidak Selamanya) Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya. Pernah dengar pepatah tersebut? Well, saya yakin 1000% semua orang pasti pernah mendengarnya lebih dari sekali dalam hidupnya. Arti dari pepatah tersebuh kurang lebih yaitu sifat-sifat atau nilai-nilai yang dianut oleh orang tua pasti menurun kepada anaknya. Lalu apakah papatah tersebut benar-benar menjadi harga mati? Let's check it out!

Saya pernah mendengar sebuah kisah begini, Sepasang suami istri yang sangat luar biasa pintar dan juga menjadi pengajar sains memiliki 3 orang anak, anaknya yang pertama cukup interest dengan sains juga sehingga anak tersebut memilih melanjutkan pendidikan tingginya ke jalur sains seperti kedua orang tuanya. Anak kedua mereka ternyata tidak tertarik dengan sains sama sekali, nilai sainsnya cenderung kurang dibanding nilai pengetahuan sosialnya yang amat baik, ia pun memilih mempelajari ilmu sosial sampai ke perguruan tinggi. Dan terakhir, anak ketiga mereka yang ternyata cenderung biasa saja dalam sains dan ilmu sosial, dia malah sangat pintar dalam bidang bahasa. Bagusnya kedua orang tua mereka sangat tidak percaya dengan pepatah "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya" sehingga si orang tua tidak memaksakan anak-anaknya untuk menggeluti bidang sains juga dan malah mendukung mereka untuk berkembang dibakatnya masing-masing.

David Shenk, seorang penulis Amerika di bidang genetika, meminta orang untuk berpikir lagi jika mengatakan bakat atau kejeniusan seseorang berasal sepenuhnya dari gen alias keturunan. Kemampuan matematika, musik atau cara berbicara dianggap sebagai bakat bawaan atau biologis dalam gen manusia. Tapi hal tersebut tidak sepenuhnya benar, karena bakat bisa diperoleh dengan latihan. Menurutnya, kecenderungan untuk mengatakan kemampuan tersebut adalah genetik telah sangat dilebih-lebihkan. Pandangan ini menyebabkan terabaikannya potensi yang dimiliki dalam diri seseorang.

Kadang-kadang karena pepatah yang selanjutnya lebih seperti doktrin ini. Setiap anak yang berbeda dengan orang tuanya selalu dijudge salah. Orang-orang disekitarnya akan menganggap. Ibunya pintar matematika ya anaknya juga harus pintar, kalo tidak maka eksistensinya sebagai manusia independent akan diabaikan, orang-orang akan mulai bertanya dengan nada satire "Ibumu kan guru matematika,masa soal seperti ini aja kamu tidak bisa mengerjakan? nilai ulangan juga selalu buruk, bagaimana sih kamu?". Lalu sekarang coba lihat apa yang ada dalam hati si anak ketika ada yang berbicara seperti itu. Si anak akan mulai merasa ada yang salah dengan gen nya, menyimpang dan tak biasa. Akhirnya bukannya ia mencintai matematika, tapi ia malah semakin membenci matematika dan berpikir "mengapa sih ibu saya jadi guru matematika?" . Bakat alaminya, contohnya: bakat menari, akan ia mulai coba usir dan memilih untuk bergelut dengan matematika. Mulai tahap inilah akan terjadi krisis jati diri. Ia akan menjadi seorang yang menjalani hidup seperti prosedur dalam sebuah program komputer. Hidupnya mengikuti alur yang sudah ditentukan dalam sebuah disiplin ilmu tanpa ada rasa senang dan enjoy di hatinya.Walaupun ada juga beberapa anak yang mulai berdamai dengan diri dan berhasil menikmati hidupnya.

Saya jelas sangat setuju dengan kisah di paragraf dua diatas. Setiap orang tua harusnya bisa mengerti dan mendukung potensi si anak dan tidak memaksakan kehendaknya untuk menjadikan si anak seperti dirinya. Karena sesungguhnya setiap orang memiliki karakteristik masing-masing, percayalah sepasang anak kembarpun pasti memiliki sifat yang berbeda. Sukses bukan diukur dari apakah ia pintar sains atau tidak. Sukses bukan diukur dari apakah dia kuliah di jurusan favorit dan universitas ternama. Sukses itu relatif. Dan setiap orang bisa meraih sukses dengan apa yang ia jalani atau dengan kata lain dengan jalan hidupnya masing-masing.

Saya harap pepatah "Buah tak jatuh jauh dari pohonnya" ini hanya kita kemukakan pada situasi dan kondisi yang tepat saja, bukan sepenuhnya. Karena "Tidak selamanya buah tak jatuh jauh dari pohonnya", apabila ada angin kencang serta hujan mungkin saja buah yang jatuh itu terlempar ke sebuah daratan yang jauh lebih sesuai dan ia dapat tumbuh dan berkembang menjadi sebuah pohon yang kokoh suatu hari nanti. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KESAL

“Kemarin saya kesel banget sama pacar saya, seharian dia gak ngesms, nelepon saya.. kesel bangetlah pokoknya..”

“Gila tuh orang bikin gue gondok,jalan liat-liat dong maen tebrak orang aja, gak punya mata ya??”

Petikan dua kasus diatas mungkin sering kita temui di sela kehidupan sehari-hari kita. Dari dua kasus itu pulalah kita kita dapat menggarisbawahi sebuah kata yang menjadi ide pokoknya yaitu kata “KESAL”.
Apa itu kesal? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kesal adalah mendongkol, sebal, kecewa bercampur jengkel, tidak suka lagi, jemu. Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kesal itu merupakan perasaan tidak enak, dongkol yang terjadi akibat sesuatu hal yang tidak kita senangi keberadaannya.
Setiap orang pasti pernah mengalami perasaan itu berkali-kali, bahkan lebih sering dari jatuh cinta. Kesal dapat membuat suasana yang tadinya hingar binger menjadi muram. Kesal dapat membuat kekerabatan yang hangat jadi dingin. Intinya kesal dapat memutar balik dunia kita 180 derajat. Dan efeknya bisa fatal, ada pula orang yang tega membunuh saudaranya sendiri karena kesal.
Berbagai penyebab datangnya rasa kesal, mulai dari hal yang sepele sampai yang parah. Setiap orang juga memiliki batasan kesal masing-masing. Misalnya ada orang yang hanya disenggol sedikit saja batas kesalnya sudah jebol dan mulai melakukan aksi arbitrasi, marah-marah untuk menumpas kekesalannya. Adapula yang jika hanya disenggol seperti itu hanya bisa mengelus dada dan berkata pada dirinya sendiri “sabar, sabar”. Dan adapula yang dengan melankolisnya berkata “tidak apa-apa kok, cuma gitu doang”.
Berbagai cara orang mengatasi rasa kesal. Tentu saja dengan jangka waktu yang beraneka ragam. Jika kita menumpahkan unek-unek kita pada orang lain maka yakinlah jawaban pertama mereka adalah “sabar aja ya”. Saya yakin seratus persen kata itu sama sekali tidak akan memperbaiki suasana hati orang yang sedang kesal malahan hal itu malah memperbanyak tersangka dalam kasus kesal kita. Kita akan berkata dalam hati “gampang sekali bilang begitu, ya orang kamu ga ngerasain sih”.
Tidak ada obat mujarab lain yang bisa menyembuhkan rasa kesal kita selain selain diri kita sendiri. Mengapa? Karena hanya kita lah yang bisa membuat suasana hati kita baik. Jika rasa kesal muncul maka sebaiknya diam dan menjauh dari orang lain, tak perlu lah menghabiskan energi untuk bercerita pada orang lain, belum tentu mereka mengerti apa yang kita pikirkan. Ada baiknya kita berkompromi sedikit dengan pikiran kita, suruhlah ia menetralisir hati kita. Caranya dengan berkontemplasi, merenungkan detil-perdetilnya. Mulai dari sebab kekesalan kita, efek apa saja yang mungkin timbul di depan jika kekesalan kita tidak terkontrol dengan baik. Tanyalah pada diri sendiri, berapa kali kita kesal seumur hidup? Dan berapa kali kita membuat orang lain kesal ?bagaimana perasaan orang yang kita buat kesal? Berapa orang yang sampai saat ini masih bisa berdamai dengan rasa kesalnya dan tetap tersenyum tulus pada kita? Untuk jawaban yang terakhir saya rasa hampir 80% orang yang pernah kita buat kesal melakukannya. Mengapa?? Karena kesal itu hanya rasa sesaat yang timbul akibat ketidakkonsistenan perasaan nyaman kita. Setelah beberapa waktu dan pikiran kita kembali jernih pasti aka nada perasaan bodoh dan mengutuki diri sendiri atas kekesalan yang tadi kita alami.
Jadi mulailah berpikir bahwa kesal itu hanya seperti limit fungsi, kecepatan sesaat, jadi janganlah rasa kesal itu membodohi kita terlalu lama dan mengontrol ke enam panca indra kita sehingga tidak semanis biasanya. Merenung merenung merenung merenung, itu intinya tanyakan semua perasaan kita pada pikiran kita. Satu pertanyaan penting yang harus muncul saat kita merenungkan kekesalan kita yaitu “berapa kali kita mengalami rasa kesal? Dan berapa kali kita membuat orang lain kesal?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cried Out

Aku suka menangis
ibu bilang sejak bayi aku suka sekali menangis
bila senja tiba aku mulai menangis
sampai ngantuk
kemudian lelap tidur

Aku suka menangis
waktu SD menangis
saat petugas puskesmas datang
aku lari sambil menangis

Aku suka menangis
sampai sekarang juga menangis
kalau ingat kemarin
kalau ingat mimpi

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Takut

Kau adalah ketakutan terbesar dari semua masalah..
mungkin sampai mati begini
benci,amarah,gundah,cemas
semua ketidaksengajaan akan menjadi salah dimatamu
dan aku tentu saja bak makhluk terlemah sejagad raya
aku bingung
saat tak ada tempat bertanyapun
aku tetap jadi pihak yang paling salah
sampai akhirnya aku lelah menyerahkan jiwa raga harga diri semuanya
sungguh aku muak, hendak ini itu takut salah
takut akan semua perkataanmu
takut selalu
sehingga akhirnya aku begini
hidup dengan separuh rasa percaya diri di ubun ubun.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Need more chance

Hidup di peradaban tak terkendali
dalam putaran waktu di luar akal
dinding mengaduh lalu tak berdaya

berhentilah!
kita sudah terlalu letih membisikimu dengan kata sabar
desis marmer sehijau lumut

Tuhan..
Tenaga apa yang membuat matahari mengintari bumi menjadi cepat begini?
Mengapa kemarin dekat dengan hari ini?
Dan mengapa hari ini dekat dengan besok?
Ada banyak peran yang belum sempat aku lakoni..

Nyanyian angin menelantarkan aku begitu saja
aku belum mau remuk saat perapian padam
sekalipun gelombang pasang mengerjarku larut

aku berharap, harapan harapan yang lain menantiku di pojok pojok waktu lagi
tanpa meninggalkanku seperti kemarin...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS